Pariwisata dan Soft Power
|
| 1 – 10 |
Halifa Haqqi, (Universitas Slamet Riyadi Surakarta) |
Festival Budaya Solo sebagai Counter Hegemony di Era Globalisasi |
| 13 – 21 |
Syahrul Awal (Universitas Budi Luhur) |
Melestarikan Kearifan Lokal Guna Memajukan Pariwisata di Era Globalisasi |
| 23 – 39 |
Sintia Catur Sutantri (International Women University) |
Pencak Malioboro Festival Sebagai Soft Power dalam Promosi Pariwisata di Yogyakarta |
| 41 – 51 |
Surwandono, Dolli Harahap, Sidik Jatmika (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) |
Wisata Halal dan Stimulasi Pembangunan Supra-Struktur dan Infra Struktur Pendukung Pariwisata di Riau |
| 53 – 65 |
Putu Ratih Kumala Dewi (Universitas Udayana) |
Soft Power with Flavor: Boba Tea as Taiwan’s Soft Power Tool to Enhance Nation Branding |
Agama, Identitas dan Hubungan Internasional
|
| 67 – 75 |
Zulkifli Harza, Bima Jon Nanda, Rifki Dermawan (Universitas Andalas) |
Indonesia di Jepang Menata Ulang Ke-Bangsa-an Indonesia Melalui Perspektif Pengalaman Diaspora |
| 77 – 86 |
Harryanto Aryodiguno (Presiden University) |
Republik Rakyat China dari Perspektif Identitas Ke-Tionghoa-an Indonesia |
| 87 – 97 |
Sofia Trisni, Ferdian, Hidayat Syah (Universitas Andalas) |
Aplikasi Kecintaan terhadap Budaya Populer Korea : Sebuah Tinjauan terhadap Fenomena Korean wave di kota Padang |
Globalisasi, Interdependensi, dan Konflik
|
| 99 – 111 |
Elistania, Yusran, Nabil Ahamad Fauzi, Afri Asnelly (Universitas Budi Luhur) |
Peran Pemuda dalam Melestarikan Kearifan Lokal untuk Kelestarian Lingkungan Pada Era Globalisasi |
| 113 – 131 |
Yusnarida Eka Nizmi (Universitas Riau) |
Globalisasi dan Kompleksitas Industrial Park bagi Batam |
| 133 – 144 |
Umi Oktyari Retnaningsih (Universitas Riau) |
Imperialisme Melalui Disinformasi Makanan Sehat di Amerika: Studi Kasus Columbus |
| 145 – 161 |
Diah Ayu Permatasari (Universitas Bhayangkara Jakarta Raya), Noam Lazuardy (National University of Management, Cambodia) |
Kerja sama Multilateral dalam Dalam perwujudan Energi Berkelanjutan melalui Perilaku Masyarakat |
Komunitas Epistemik Masyarakat Transnasional dan Isu Non Tradisional
|
| 163 – 177 |
Yessi Olivia (Universitas Riau) |
Hak Asasi Manusia Indonesia Setelah Reformasi: Kasus Gagalnya Ratifikasi Statuta Roma untuk Pengadilan Kriminal Internasional |
| 179 – 196 |
Tatok Djoko Sudiarto, Asriana Issa Sofia (Universitas Paramadina) |
Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Berbasis Pendekatan Identitas Lokal Masyarakat Terpapar Bencana |
| 197 – 209 |
Hizra Marisa, Andree (Universitas Abdurrab) |
Analisa Implementasi Smart City Madani Pemerintah Kota Pekanbaru Dalam Upaya Sinergitas Program Asean Smart Cities Network (ASCN) 2030 |
| 211 – 227 |
Ibnu Zulian, Stivani Ismawira Sinambela (Universitas Potensi Utama) |
Analisis Kontribusi dan Hambatan Kerjasama Sister City antara Pemerintah Kota Medan dan Rostov on Don (Rusia) |
| 229 – 247 |
Asep Saipudin, Sri Muryantini, Herra Dwi Maghfiroh (Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta) |
Internalisasi Rejim Pembangunan Berkelanjutan Melalui Kebijakan Green Industry Era Pemerintahan Joko Widodo |
Komunitas Epistemik Kajian Eropa
|
| 249 – 259 |
Ali Muhammad (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) |
Status Rusia Sebagai Great Power: Politik Luar Negeri Rusia Era Presiden Vladirmir Putin |
| 261 – 270 |
Mutia Hariati Hussin (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) |
Eropanisasi di Uni Eropa |
Komunitas Epistemik Kajian Keamanan Internasional
|
| 271 – 287 |
Andrea Abdul Rahman Azzqy (Universitas Budi Luhur) |
Pembangunan Tarakan Sebagai Pangkalan Aju Militer di Wilayah Kalimantan Utara |
| 289 – 300 |
Nadya Ayu Arminta, Irmawan Effendi (Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta) |
Kepentingan Nasional Korea Utara di KTT Antar-Korea 2018 |
| 301 – 314 |
Anggun Puspitasari (Universitas Budi Luhur) |
Penguatan Enmeshment Strategy Indonesia dalam IORA (Indian Ocean Rim Association) Menuju Integrasi Institusi Pengamanan Maritim Regional di Kawasan Samudra Hindia |
| 315 – 323 |
Sugeng Riyanto (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) |
Sistem Senjata Otonom dan Problem Legalitas |
| 325 – 338 |
Sugito (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) |
Kegagalan Pendekatan Hybrid Peace dalam Misi Reformasi Sektor Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Timor Leste Tahun 1999-2006 |
Komunitas Epistemik Kajian Perbatasan
|
| 339 – 351 |
Rendy Prayuda (Universitas Islam Riau) |
Ancaman Keamanan Non Tradisional di Wilayah Perbatasan: Sebuah Tinjauan Terhadap Riau dan Malaka |
| 353 – 373 |
Iva Rachmawati (Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta) |
Komunitas Epistemik dalam Isu Perbatasan Indonesia Malaysia: Camar Bulan dan Tanjung Datu |
Komunitas Epistemik Kajian Timur Tengah
|
| 375 – 394 |
Sidik Jatmika (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) |
Saudi’s Opening Policy for Women Rights: Considerations and Prospects |
Komunitas Epistemik Kebijakan Luar Negeri dan Diplomasi Kontemporer
|
| 395 – 404 |
Ishaq Rahman (Universitas Hasanuddin), Claudia Conchita Renyoet (Universitas Cenderawasih) |
Peranan Pemerintah Kota Makassar dan Jayapura sebagai Sub-state Actors Dalam Diplomasi |
| 405 – 415 |
Afrizal (Universitas Riau) |
Politik Luar Negeri Indonesia Era Joko Widodo Dalam Isu Lingkungan Global |
Komunitas Epistemik Asosiasi Studi Islam dan Hubungan Internasional
|
| 417 – 427 |
Ali Musa Harahap, Fadhlan Nur Hakiem, Akbar Kurniadi (Universitas Darussalam Gontor) |
The Vulnerability of Muslim States: First Acquaintance |
| 429 – 440 |
Siti Muslikhati (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) |
Pandangan Islam Terhadap Liberalisasi Budaya: Titik Tengah Diskursus Kemajemukan dan Persatuan |
Komunitas Epistemik Kajian Asia Timur dan Pasifik
|
| 441 – 451 |
Nuriyeni K. Bintarsari (Universitas Jenderal Soedirman) |
Sovereignty and the Right of Citizenship: The Case Study of the Rohingya Ethnics in Myanmar |