Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII), yang merupakan satu-satunya perkumpulan penyelenggara program studi Hubungan Internasional dan dosen Hubungan Internasional di lebih dari 50 universitas negeri maupun swasta yang tersebar di seluruh Indonesia,  adalah merupakan  bagian yang tidak terpisahkan  dari bangsa Indonesia  yang sangat  peduli terhadap kemajuan bangsa dan negara,  terutama dalam konteks Hubungan Internasional. Mencermati berbagai peristiwa/kejadian internasional sepanjang tahun 2015, AIHII dengan ini menyampaikan Refleksi Akhir Tahun 2015 yang ditujukan kepada seluruh pemangku kepentingan, dan secara khusus  Pemerintah RI sebagai berikut.

Sepanjang tahun 2015 hubungan internasional di tataran global maupun regional sangat dinamis, yang setiap saat berubah secara pesat sesuai dengan peran para aktor negara dan non-negara, organisasi regional/internasional,  organisasi non-pemerintah serta  kelembagaan internasional lainnya. Komitmen internasional yang diusung oleh umumnya negara, bangsa dan umat manusia untuk mencapai tatanan dunia baru yang lebih adil, damai, aman dan sejahtera masih belum sesuai dengan yang dicita-citakan. Di sisi lain, berbagai aktor negara dan non-negara lebih banyak mengedepankan pendekatan hard power ketimbang soft power, sehingga cita-cita luhur tersebut semakin jauh dari kenyataan. Benturan antara kepentingan domestik, regional dan global demikian kompleksnya, hingga peristiwa/kejadian yang berlangsung di berbagai wilayah di dunia tersebut semakin mengancam terciptanya perdamaian, stabilitas dan kesejahteraan yang jelas amat memprihatinkan, dan pada gilirannya  berdampak baik langsung maupun tidak langsung kepada Indonesia, yang sedang diuji untuk tetap konsisten  menjalankan politik luar negeri bebas dan aktif, sesuai dengan amanah para  founding fathers negara RI.

Dinamika Keamanan Internasional

Sepanjang tahun 2015 keamanan internasional secara signifikan mengalami  interaksi di dua kawasan penting, yaitu Asia Timur dan Timur Tengah. Interaksi ini pada kenyataannya masih didominasi negara-negara besar, khususnya Uni Eropa, AS, Rusia dan China, yang selama ini menggunakan hard power dalam interaksinya, hingga membatasi peluang keikutsertaan sejumlah negara-negara berkembang yang dengan soft power-nya sesungguhnya dapat berperan baik sebagai mediator maupun aktor regional,  khususnya India, Indonesia, Turki, Brazil dan Afrika Selatan.

Yang perlu dicatat mengenai kawasan Asia, khususnya Asia Timur,  adalah semakin meningkatnya profil militer Jepang serta agresivitas China di kawasan Laut China Selatan (LCS), sementara perhatian khusus perlu pula diberikan terhadap  klaim sejumlah negara anggota ASEAN (Vietnam-Philipina-Malaysia-Brunei), disamping upaya mediasi yang dilakukan oleh Indonesia sendiri.  Sementara yang mengemuka di Timur Tengah adalah isu-isu ideologis, seperti ISIS, Sunni-Syiah, Terorisme dan lain-lain, diiringi intensitas kegiatan militer baik dari AS maupun Rusia di Syria dan Irak, yang dikhawatirkan akan berlarut-larut bahkan dapat menjalar ke kawasan-kawasan lain. Di sisi lain,  diakuinya Palestina oleh PBB sebagai negara sekaligus sebagai non-member observer status merupakan perkembangan yang cerah dan menggembirakan  di kawasan Timur Tengah.

Dinamika Ekonomi Politik Internasional

Dinamika ekonomi politik internasional telah memperlihatkan perkembangan geopolitik dan geoekonomi yang sangat menarik. Beberapa kejadian sepanjang 2015 menggambarkan hal tersebut, seperti minat Indonesia yang ingin bergabung ke dalam Trans-Pacific Partnership (TPP), menyusul komitmen negara-negara ASEAN (termasuk  Indonesia sendiri) di dalam Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).  Kejadian lainnya adalah inisiasi China melalui  Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) yang berpotensi  dapat mengubah lansekap ekonomi politik keuangan global. Di sisi lain, persaingan China – Jepang di Asia Timur  pada gilirannya telah memberikan dampak kepada Indonesia dengan sikap pemerintah Indonesia yang lebih memilih proposal China mengenai kereta api  cepat Bandung-Jakarta ketimbang proposal Jepang. Pilihan ini  telah menambah bumbu yang berakibat pada memanasnya hubungan  ekonomi Indonesia – Jepang. Sementara isu perpanjangan kontrak karya  Freeport telah memicu terganggunya diplomasi ekonomi Indonesia dalam kaitannya dengan Amerika Serikat.


Dinamika Sosial Budaya

Peristiwa signifikan yang mewarnai dinamika sosial budaya sepanjang 2015 adalah  secara resmi dinyatakan berlakunya Komunitas ASEAN 2015. Sekalipun ASEAN sudah  mendekati usia hampir setengah abad, bahkan Komunitas ASEAN telah berhasil diwujudkan, namun rakyat di lingkungan ASEAN masih belum sepenuhnya berbaur,  bahkan lebih dikenal  sebagai organisasi regional yang elitis. Sesungguhnya untuk berhasilnya integrasi regional,  perlu dikedepankan unsur-unsur non-material, tidak sekedar persoalan material yang lebih mementingkan keuntungan ekonomi. Dengan membandingkan apa yang telah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, ke depan Indonesia perlu lebih memaksimalkan peranan kepemimpinan (leadership) nya di lingkungan ASEAN.

Dengan mempertimbangkan salah satu aspek TRISAKTI yaitu ”Berdaulat dalam Politik” khususnya butir 1 yang intinya adalah keinginan membangun wibawa politik luar negeri dan mereposisi peran Indonesia dalam isu-isu global dengan empat prioritas yang dikedepankan dan dengan gambaran berbagai kejadian dan peristiwa internasional tersebut di atas,  maka AIHII menyampaikan pandangannya sebagai berikut :

  1. AIHII mengapresiasi upaya dan langkah di bidang hubungan internasional yang ditempuh oleh pemerintah Indonesia, namun AIHII menilai bahwa tekad yang dicanangkan oleh pemerintah Jokowi-JK belum terlaksana secara optimal;
  2. Di tengah dinamika lingkungan strategis yang baru baik pada tingkat regional maupun  pada global,  Indonesia perlu memposisikan diri sebagai primus interpares di lingkungan ASEAN, mengingat independensi Indonesia selama ini,  yang secara konsisten memegang teguh politik luar negeri bebas aktif.  Secara khusus,  Indonesia perlu secara aktif menjaga suasana damai dan stabil  di kawasan Laut China Selatan, mempertahankan sikap tegas dalam peran mediasinya dalam persoalan Palestina dan dengan tetap merespon perkembangan terkini di berbagai kawasan dunia termasuk Timur-Tengah seperti di Suriah dan Irak;
  3. Pemerintah Indonesia perlu lebih asertif mendorong ASEAN menemukan identitas ASEAN baru dengan meninggalkan identitas lama, yaitu dengan mewujudkan identitas bersama ASEAN sebagai identitas regional  yang harus dibangun di atas nilai-nilai universal, seperti hak asasi manusia, kemakmuran bersama dan kebebasan dari penindasan. Komunitas ASEAN merupakan “super-organisme dengan kesadaran kolektif” yang harus tertanam, tidak saja di setiap negara anggotanya, lebih dari itu, di setiap warga negara ASEAN melalui proses panjang hasil dari interaksi intensif anggota kelompok. Salah satunya, dengan upaya menyusun dan mewujudkan blueprint menuju Masyarakat ASEAN 2025 secara lebih jelas;
  4. Pemerintah Indonesia perlu melanjutkan upaya perlindungan warga negara Indonesia khususnya tenaga kerja Indonesia di luar negeri dengan melakukan langkah perbaikan yang didasari prinsip-prinsip dalam konvensi buruh migrant 1990 dalam rangka menjamin keamanan dan pemenuhan hak sosial dan ekonomi mereka dengan cara, walau tidak terbatas pada, menjaga agar tata kelola penempatan dan perlindungan pekerja migran tidak berpotensi pada pembatasan hak warga negara untuk bekerja dengan cara pembuatan peta jalan penurunan biaya bermigrasi dan atau exit strategy penempatan pekerja migran dari kawasan yang tak ramah ke kawasan yang lebih ramah pekerja migran dengan dukungan politik dan diplomasi luar negeri;
  5. Pemerintah Indonesia perlu lebih asertif dalam mengedepankan diri dalam pergaulan internasional sebagai middle power  dalam diplomasi ekonomi, sosial budaya, lingkungan untuk mencapai target-target pembangunan global selanjutnya seperti tercantum dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Selain itu, pemerintah Indonesia harus tetap memperjuangan dan menjamin pelaksanaan hak asasi manusia (HAM) dengan tujuan mencapai kepentingan nasional Indonesia yang strategis dengan tetap mempertimbangkan kekuatan-kekuatan ekonomi nasional agar tidak hanya dikuasai oleh pengusaha besar maupun asing, memperhatikan distribusi kesejahteraan yang lebih adil khususnya di daerah-daerah yang memiliki kekayaan alam melimpah seperti Papua, Aceh dan Kalimantan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia sehingga tercipta trust antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan masyarakat lokal.

Jakarta, 30 Desember 2015
Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII)

Prof. Tirta N. Mursitama, PhD      
Ketua

Hp: +62817 835 055
Email: ketua@aihii.or.id

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas terselenggaranya Konvensi Nasional (Vennas) VI Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) di Lombok Mataram pada tanggal 24-28 November 2015.

Tanpa terasa perjalanan AIHII sebagai satu-satunya asosiasi yang menaungi program studi (prodi) Hubungan Internasional dan para staf pengajar/peneliti/pemerhati Hubungan Internasional Indonesia telah menginjak tahun keenam. Dalam kurun waktu ini, AIHII masih terus tumbuh dalam tahapan meletakkan landasan sebagai organisasi modern yang dikelola secara profesional.

Bila kita mengikuti dengan seksama, masing-masing konvensi yang dilaksanakan telah menjadi milestones bagi keberadaan AIHII hingga saat ini. Secara khusus, Vennas VI ini memiliki makna penting dan strategis karena akan berlakunya Masyarakat ASEAN 2015.

Dari niat untuk berkontribusi dalam perjalanan bangsa Indonesia, AIHII sebagai sebuah komunitas epistemik Hubungan Internasional Indonesia berupaya memberikan berbagai pemikiran dalam menyambut Masyarakat ASEAN 2015 yang secara resmi mulai berlaku pada 31 Desember 2015. Bahkan, beberapa hari yang lalu para pemimpin ASEAN menyepakati visi baru ASEAN paska 2015.

Dalam prosiding tercantum sembilan belas karya ilmiah dari para anggota AIHII yang membahas tentang kontribusi Hubungan Internasional menyambut Masyarakat ASEAN 2015 dan isu-isu lain yang berkembang dalam perspektif analisis Hubungan Internasional. Untuk itu, salah satu sumbangan penting dari Vennas VI ini adalah pemikiran tentang bagaimana studi Hubungan Internasional tetap relevan dalam Masyarakat ASEAN 2015.

Melanjutkan tradisi-tradisi yang baik dalam Vennas, pada Vennas VI kali pun tidak hanya berupa pertemuan ilmiah tetapi juga pertemuan organisasi yang akan menentukan masa depan AIHII sebagai sebuah organisasi profesi yang semakin profesional. Untuk itu, sebagai ketua AIHII saya mengajak kita semua untuk berpikir secara konstruktif menjadikan AIHII semakin kuat secara organisasi dan memberikan manfaat konkrit kepada para anggota dan masyarakat luas khususnya dalam memajukan Hubungan Internasional di Indonesia.

Saya berharap akan muncul terobosan inovatif dalam pengelolaan organisasi dan program kerja yang selama ini telah mulai dibangun dengan susah payah oleh para aktifis, ketua dan pengurus AIHII terdahulu. Beberapa agenda organisasi yang dapat dibahas antara lain adalah struktur organisasi, penyempurnaan AD/ART, KKNI, penerbitan jurnal asosiasi, program pertukaran mahasiswa, Lembaga Akreditasi Mandiri, Akreditasi, resource sharing diantara prodi di seluruh Indonesia dan program kerjasama penelitian dan publikasi bersama dan lain-lain.

Akhirnya, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Menteri Luar Negeri Republik Indonesia beserta jajarannya yang telah menjadi mitra strategis AIHII selama ini, Universitas Mataram sebagai tuan rumah dan para panitia penyelenggara yang dipimpin Sdri Mala yang telah mempersiapkan segalanya dengan dukungan yang luar biasa. Saya juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang mendalam kepada para pengelola program studi Hubungan Internasional seluruh Indonesia (anggota AIHII) serta individu yang berjasa, anggota SC dan OC sehingga Vennas VI ini dapat berlangsung dengan baik. Saya mohon maaf bila masih banyak terjadi kekurangan.

Selamat berkonvensi, selamat berkontribusi bagi kemajuan negeri!

Jakarta, 23 November 2015

Salam hangat,

 

Prof. Tirta N. Mursitama, PhD

Ketua AIHII 2014-2017

Salam hangat AIHII-ers ysh,

Semoga senantiasa sehat dan lancar dalam beraktifitas.

Tanpa terasa tanggal pelaksanaan Vennas VI semakin dekat. Saya mengucapkan terima kasih bagi yang telah mengirimkan full paper. Mohon dipastikan full paper terkirim kepada saya (mursitama@yahoo.com), saudara Rangga Aditya (rangga.adityaelias@gmail.com) dan panitia pelaksana saudari Mala (malaaja.sip@gmail.com). Bagi yang belum mengirimkan diberikan perpanjangan hingga tanggal 15 November 2015.

Namun demikian, perkembangan terkini akibat meletusnya anak gunung Rinjani telah mengakibatkan ditutupnya bandara international Lombok (BIL) hingga email ini ditulis (10 November 2015). Pemerintah belum memberikan kepastian kapan BIL akan dibuka kembali.

Berkaitan dengan hal tersebut, Pengurus AIHII dan Panitia penyelenggara Vennas VI telah mengambil kebijakan bahwa akan dilakukan pengunduran pelaksanaan Vennas VI hingga awal Desember 2015 BILA hingga H-7 (Tanggal 17 November 2015) belum ada kepastian pembukaan BIL secara permanen. Bila itu terjadi, keputusan pengunduran Vennas VI akan diinformasikan secara resmi selambat-lambatnya tanggal 18 November 2015.

Pengurus memandang perlu menyampaikan rencana antisipasi ini agar seluruh peserta dan panitia serta semua pihak yang terlibat dapat segera mengambil langkah yang dianggap perlu. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Pengurus dan panitia terbuka terhadap saran dan masukan.

Atas perhatian dan pengertian yang diberikan, saya sampaikan banyak terima kasih.

Salam hangat,
Tirta

CIReS FISIP UI mengundang Bapak/Ibu untuk hadir dalam kegiatan Diseminasi Hasil Riset “Tanggung Jawab Siapa? Tata Kelola CSR di Negara-negara ASEAN”  yang dilakukan dalam skema Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi (PUPT) DIKTI tahun 2015. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada:
 
Hari/tanggal    : Jumat/13 November 2015
Pukul               : 09.30-12.00 WIB
Tempat           : Auditorium Juwono Sudarsono  FISIP UI
Pembahas    : Maria R. Nindita Radyati, Ph.D (Direktur Program Master Management CSR (MMCSR)
      Universitas Trisakti) 

Tim Peneliti   : Nurul Isnaeni, Asra Virgianita, dan Shofwan ABCD
 
Besar harapan kami bapak/Ibu dapat berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Atas perhatian dan kehadirannya kami mengucapkan terima kasih.
 
 
 Hormat kami,
Dr. Fredy B.L. Tobing, M.Si.
Direktur CIReS FISIP UIContact Person: Sindy Yulia Putri (021-7873744 / sindyjerman@gmail.com)
Tersedia Coffee Break, Snack box, Sertifikat dan  Seminar KitUntuk 40 Pendaftar Pertama

Keberadaan studi Australia memiliki peran yang strategis guna memperluas perspektif pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk meningkatkan rasa saling pengertian dalam hubungan bilateral Indonesia dan Australia. Meskipun demikian, kajian akademik mengenai studi Australia hingga saat ini dinilai belum berkembang dengan optimal di Indonesia. Oleh karenanya, penyelenggaraan forum ilmiah bagi para akademisi yang tertarik, sedang, dan akan mempelajari kawasan Australia menjadi sangat penting dan dibutuhkan untuk mengembangkan studi Australia di Indonesia.

Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan Program Studi Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia, dan School of Social and Politic Sciences, The University of Melbourne, serta Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia  mengadakan seminar dan workshop yang bertajuk “Convention on Australian Studies (CAS) 2015”. Acara ini akan  digelar di Gedung Lengkung Sekolah Pasca Sarjana UGM, Yogyakarta, hari  Rabu-Kamis, 20-21 Mei 2015

Berkenaan dengan hal tersebut di atas, panitia yang diketuai Drs. Dafri Agussalim, MA. mengundang perwakilan Jurusan Hubungan Internasional   untuk menjadi peserta dalam CAS 2015. Jumlah peserta workshop dibatasi untuk 35 orang. Panitian juga akan memutuskan peserta terpilih berdasarkan konten aplikasi formulir registrasi dan distribusi wilayah.

Sebagai informasi, workshop ini diselenggarakan untuk pengajar dan peminat studi Australia yang akan membicarakan mengenai perkembangan studi Australia di Indonesia. Salah satu luaran dari workshop ini adalah pembentukan jejaring atau asosiasi pengajar Australia di Indonesia yang akan didukung oleh akademisi Australia.

Peserta dapat mendaftarkan diri dengan mengirimkan formulir registrasi terlampir atau melakukan pendaftaran daring (online) dengan mengunduh formulir pada laman australianstudies.fisipol.ugm.ac.id dan mengirimkannya ke australianstudies@ugm.ac.id selambat-lambatnya 8 Mei 2015. Peserta terpilih akan diumumkan pada 10 Mei 2015.

Informasi lebih lanjut dapat  menghubungi Ratih Melati melalui ratih.melati.e@ugm.ac.id atau +6281-944-955-628 dan Putri Ayu melalui putri.ayukusumawardhani@gmail.com atau +6285-742-968-388. [rilis/adm]

 

Department HI Binus mengadakan Kijang Initiatives Forum (KIF) yang kedua ditahun 2015 pada hari Jumat, 20 Maret 2015 di ruang M2B Kampus Syahdan Jakarta. Pada kesempatan tersebut dosen HI Binus, Mutti Anggitta, S.Sos., MA, memaparkan isu nuclear security dan mengapa kepedulian para kaum akademisi menjadi penting dalam isu ini. Kijang Initiatives Forum ini dihadiri oleh para dosen dan mahasiswa HI Binus, serta Pak Khairul dan Pak Budiyanto dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).

Melalui KIF, Mutti Anggita ingin meningkatkan kepedulian para akademisi Hubungan Internasional terhadap pendidikan nuclear security di Indonesia. Fakta bahwa Indonesia memiliki tiga nuclear research reactors (masing-masing berlokasi di Bandung, Serpong dan Yogyakarta) dan seriusnya bahaya yang dapat ditimbulkan apabila bahan-bahan pembuat nuklir tersebut jatuh ke tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab merupakan alasan yang melatarbelakangi pentingnya nuclear security education di Indonesia. Beberapa contoh kasus pencurian bahan pembuat nuklir yang pernah terjadi dipaparkan sebagai gambaran bahwa ancaman terhadap nuclear security bisa datang dari berbagai kalangan dengan beragam motif dan tujuan.

Dalam forum ini juga dijelaskan bahwa nuclear security memiliki 3 aspek yang meliputi: safety, safeguard, dan security. Aspek safety dan safeguard telah memperoleh perhatian dari para nuclear scientists dan nuclear engineers. Namun aspek security belum banyak mendapat perhatian dari kaum akademisi Indonesia. Aspek securitydari nuclear security ini yang kemudian diharapkan dapat memperoleh tempat dalam kajian ilmu security studies, international relations dan public policy di berbagai universitas di Indonesia.

Di akhir pemaparan, Forum ini menyimpulkan bahwa nuclear security memerlukan pendekatan yang inter-disipliner dan bukan merupakan pendekatan satu ilmu saja. Untuk itu perlu ada kerjasama yang baik antara ilmuwan sosial dan nuclear engineering  dalam mendorong nuklir yang aman. [binus.ac.id]

Kawan-kawan AIHIIers… AIHII Berduka…

Salah satu saudara kita, Pak Dr. Januar Ikbar, dosen HI Unpad telah meninggal dunia.
Pak Januar adalah salah satu anggota tim 11 penyusun draft AD-ART AIHII sebelum disahkan di UMY Yogyakarta; bersama-sama dengan Kajur HI UNIKOM dan Unpar menjadi tuan rumah penyusunan draft AD ART di Bandung.

Sebagai ketua jurusan HI Unpad waktu itu, beliau selalu hadir dalam forum di Universitas Mustopo (B) dan Konvensi AIHII (di UMY Yogyakarta).

Semoga jiwanya beristirahat dengan tenang karena kerahiman Tuhan. dan keluarga yang ditinggalkan diberikan keikhlasan, ketabahan dan jalan yang panjang. Amin. Amin. Amin.

Purwadi
HI FISIP Unpar

pengirim berita : Yulius hermawan <yuliusph@yahoo.com>

Department of International Relations, Bina Nusantara University in collaboration with the Indonesian Association of International Relations Studies (Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) proudly announce the 4th International Conference on Business, International Relations, and Diplomacy (ICOBIRD) 2015.  ICOBIRD is an annual conference that has been successful to accommodate discourse on Business, International Relations, and Diplomacy in Indonesia since 2012.   This year, ICOBIRD covers issue of regional integration in Southeast Asia with the grand theme:  “Migration and Mobility in Asia and beyond.” (more…)

Salah satu fokus pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) adalah mengangkat kekuatan maritim Indonesia. Dengan mengandalkan kekuatan maritim pula bisa terjalin diplomasi antarnegara.

Demikian disampaikan oleh Sekretaris Kabinet Kerja Andi Widjayanto saat menjadi keynote speech dalam Konvensi Nasional V Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional(AIHI) di Universitas Budi Luhur (UBL). Dalam kegiatan bertema Kebijakan Hubungan Luar Negri Pemerintahan Jokowi: ‘Agenda dan Prioritas’, Andi mengkritisi tentang kekuatan maritim Indonesia dan peluang untuk meningkatkannya.

“Satu bangsa hanya bisa jadi kekuatan maritim kalau bangsa itu sadar betul bahwa bangsa itu adalah bangsa maritim. Budaya maritim harus ditonjolkan. Kedaulatan pangan kuncinya bukan di pertanian tetapi di maritim,” ujar Andi, seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Okezone, Kamis (27/11/2014).

Dia menyebutkan, pangan berbasis laut berarti sentra kelautan. Terjalinnya konektivitas maritim melalui tol laut. Konektivitas yang bersifat integratif itu memungkinkan terjadinya diplomasi maritim melalui kekuatan laut.

“Poros maritim akan sangat terkait pendidikan, kesehatan, pengentasan kemiskinan Kedaulatan pangan, energi, maritim, dan reformasi birokrasi. Dalam enam bulan pertama adalah one stop service, Kemudian cash management system,” paparnya.

Sementara itu, Rektor UBL Suryo Hapsoro menyatakan penyelenggaraan Konvensi AIHII kelima merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi UBL. Di samping sebagai tuan rumah, konvensi tahun ini dilaksanakan pada waktu yang tepat, yaitu bersamaan dengan terpilih dan dilantiknya presiden baru dan kabinet kerja yang telah terbentuk.

“Dalam hal ini, ruang untuk diskursus dengan keterlibatan akademisi dalam formulasi kebijakan masih sangat terbuka. Dan saya yakin bahwa konvensi yang merupakan salah satu media untuk dapat memberikan rekomendasi kepada pemerintah kita,” ungkap Suryo.

Pendapat senada juga disampaikan oleh Ketua Panitia Konvensi Nasional V AIHII, Yusron. Ketua program studi Hubungan Internasional (HI) UBL itu berpendapat, perkembangan studi ilmu HI dapat dimanfaatkan seluas-luasnya bagi pembangunan negara bangsa.

“Memberikan kontribusi bagi peningkatan studi ilmu HI, untuk mencari jawaban dan solusi terhadap berbagai hal yang terkait dengan politik luar negeri Indonesia, memperoleh umpan balik mengenai peran maupun keterlibatan studi ilmu HI bagi masyarakat internasional, memberikan masukan bagi institusi pemerintah maupun swasta untuk menentukan alternatif kebijakan yang berkaitan dengan kerjasama ekonomi, politik, sosial budaya, dan pertahanan keamanan,” urai Yusron.

Konvensi tersebut membahas berbagai bidang, mulai ekonomi politik internasional, diplomasi, keamanan, kawasan, gender, maritim, hingga energi. Tercatat perwakilan dari sekira 38 universitas di seluruh Indonesia hadir dalam kegiatan tersebut. (mrg)

 

sumber : okezone.com